Siapa yang tidak ingin
mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Semua anak pasti
menginginkan kasih sayang dari orang tuanya. Entah itu anak sulung, bungsu,
maupun anak tengah. Untuk blog kali ini, saya akan sedikit bercerita tentang
kehidupan menjadi anak tengah.
Anak tengah biasanya memiliki
sikap yang berbeda dari saudara-saudaranya. Bisa saja dia yang paling pendiam,
paling nakal, atau paling baik. Yang jelas, berdasarkan survey di dunia ini
tercatat bahwa anak tengahlah yang paling menderita di sebuah keluarga. Misalnya
terdapat tiga bersaudara. Maka anak kedualah yang paling menderita. Hal ini kebanyakan
disebabkan karena kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya.
Hal ini terjadi pada anak yang
berusia 7 tahun. Anak itu bernama Alifya Tsabita Nur Rahma. Panggil saja dia
Fiya. Lebih mudahnya, aku memanggilnya dengan sebutan Cepi. Cepi, itulah
panggilanku sehari-hari untuknya. Si gadis imut berkulit sawo matang, hidungnya
yang pesek, pipi tembem nan halus, ditambah dengan bola mata bulat yang tampak
berbinar setiap orang memandangnya. Gadis tersebut sangatlah lucu dan
menggemaskan.
Dia anak kedua dari tiga
bersaudara. Ibunya mengandung ketika dia
masih berusia satu tahun. Cepi pun mempunyai adik ketika ketika dia belum genap
berusia dua tahun. Sejak ibunya hamil, Cepi kurang mendapatkan kash saying dan
perhatian dari orang tuanya. Anak kecil yang seharusnya masih digendong, disuapin
makan, dan dimanjakan. Tapi hal itu tidak dirasakan oleh Cepi. Bagaimana tidak?
Ibunya hamil di usia Cepi yang masih sangat kecil. Sementara kakak kandung Cepi
sama sekali tidak mau mengurusnya. Ayahnya sibuk mencari nafkah untuk memenuhi
kebutuhan keluarga. Kepada siapa gadis mungil ini menangis?
Setiap hari dia datang kepadaku.
Kebetulan rumah kami bersebelahan. Setiap dia menangis, dia akan ke rumahku.
Aku selalu menghabiskan waktu untuk bermain dengannya. Aku juga tidak mempunyai
adik. Dia sudah kuanggap seperti adikku
sendiri. Aku selalu menyuapi dia makan, mengajaknya bermain, mengajaknya
jalan-jalan, memandikannya, dan lain-lain. Kami begitu dekat dan akrab. Bahkan
dia lebih akrab denganku dibandingkan dengan kakak kandungnya.
Aku merasa sangat iba dengan
gadis itu. Gadis sekecil itu harus bersandiwara untuk tetap tersenyum walaupun
dia sedang bersedih. Jika ia menangis, maka pukulan dan kemarahan yang ia
dapatkan dari keluarganya. Tak jarang ia mendapat pukulan dari kakaknya. Apa
salah gadis mungil ini? Tangisannya begitu mengharukan dan jeritannya menyayat
hati. Gadis sekecil itu dipaksa untuk bersandiwara dan bersikap dewasa. Tidak
ada yang memahami bahwa gadis kecil sepertinya sangat membutuhkan kasih sayang dan
dimanja. Orang tuanya lebih mengurus anak ketiganya yang masih bayi. Tidak ada
yang menyadari bahwa dia adalah seorang anak-anak. Anak-anak yang dipaksa untuk
bersikap dewasa.
Hal ini membuat anak sangat
tertekan. Dia tak pernah merasakan hak yang selama ini ia juga berhak
mendapatkannya. Hak itu telah terampas dan hanya menjadi angan-angannya saja.
Dia menjadi tidak nyaman berada di rumah. Seharusnya di rumahlah dia bisa
merasakan kebahagiaan. Dia harus menghormati kakaknya dan mengalah kepada
adiknya. Kakaknya hanya menyayangi adik bungsunya. Sehingga adik bungsunya tumbuh
menjadi anak yang manja. Di sini, Cepi yang tertindas. Adiknya selalu
menyalahkannya dan kakaknya selalu mendukung perbuatan salah adik bungsunya.
Kepatihan ini harus dihadapi Cepi setiap hari. Gadis kecil yang sangat malang. Alur hidupnya berfilosofi bahwa ia kurang mendapat kasih sayang.
Pesan
untuk orang tua:
Sebaiknya orang tua menyayangi semua anak-anaknya.
Mereka harus meluangkan waktu untuk memberi perhatian untuk anak-anaknya. Orang
tua harus memberi hak untuk anak-anaknya. Tidak ada manusia yang adil di dunia
ini. Karena yang adil hanyalah Allah swt. Manusia hanya bisa berusaha untuk
bersikap adil. Maka berusahalah untuk vbersikap adl agar mendapatkan
rahmat-Nya.
Pesan
untuk kakak:
Seorang kakak seharusnya tidak berlaku terlalu
keras, bersikap sabar, dan menyayangi
semua adiknya.